Samsul Bahri Guru Fisika
Opini Pendidikan
Kamis, 08 Mei 2025
MA Darul Ulum Banda Aceh dan Universitas Ubudiyah Indonesia Jalin Kerja Sama Strategis Melalui Penandatanganan MoU
Selasa, 06 Mei 2025
Urgensi Qanun Mawaris dan Hibah: Merajut Keadilan Syariat dan Harmoni Sosial untuk Keluarga dan Gampong ( Desa)
Oleh: Samsul Bahri, S.Pd., M.Pd
Persoalan Warisan dan Hibah ini mungkin tidak setiap hari menjadi topik utama di media massa atau perbincangan hangat di ruang-ruang publik. Ia tidak se-"dominan" isu-isu politik, ekonomi makro, atau pembangunan fisik yang lebih terlihat dan menarik perhatian massal. Ia adalah masalah yang lebih senyap, bergerak di balik pintu rumah tangga, dianggap sebagai urusan internal keluarga yang tabu untuk dibicarakan luas.
Kamis, 17 April 2025
Jerat Pornografi di Genggaman Remaja: Ancaman Nyata yang Mengintai Generasi Aceh
Oleh: Samsul Bahri (Ketua Bidang Pendidikan YPUI)
Rabu, 16 April 2025
Sekolah/Madrasah "Toxic": Ambisi Buta dan Dampaknya pada Pendidikan
Di tengah gemuruh tuntutan untuk mencapai prestasi dan citra sekolah yang gemilang, terkadang muncul fenomena kepemimpinan yang alih-alih memberdayakan, justru menjadi racun bagi ekosistem pendidikan. Inilah potret kepala sekolah atau madrasah "toxic" yang menghalalkan segala cara demi mencapai target ambisius, tanpa mengindahkan proses, nilai-nilai, dan kesejahteraan komunitas sekolah.
Mengambil Jalan Pintas Demi Target:
Ciri paling mencolok dari sekolah/madrasah toxic adalah obsesi berlebihan terhadap pencapaian target instan. Peningkatan nilai ujian, lolos seleksi bergengsi, atau meraih penghargaan tertentu menjadi tolok ukur utama keberhasilan, seringkali mengesampingkan kualitas proses pembelajaran dan perkembangan holistik siswa. Demi mencapai target ini, berbagai jalan pintas pun ditempuh.
Salah satu praktik yang sering ditemui adalah drill ala bimbingan belajar tanpa esensi pemahaman. Siswa dijejali soal-soal latihan secara intensif tanpa diberikan pemahaman mendalam tentang konsep dasarnya. Tujuan utamanya bukan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, melainkan sekadar menghafal pola soal agar berhasil dalam ujian. Proses eksplorasi, diskusi, dan penemuan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan pun terabaikan.


